Kemunafikan dan Pengaruhnya


Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Marilah dalam kesempatan ini kita senantiasa meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Dan marilah kita senantiasa menyadarkan dalam diri kita bahwa Allah SWT mengetahui semua yang disembunyikan maupun yang dinampakkan. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari penglihatan-Nya. Ia mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian tampakkan. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati. Meski demikian, ada saja di antara manusia yang menipu Allah, sementara Allah akan membalas tipuan mereka. Ada di antara manusia yang menipu hamba Allah yang mukmin dengan ucapan yang manis dan kata-kata yang indah. Bila ia bertemu denganmu, wajahnya berseri-seri, penuh kegembiraan, rasa kasih sayang dan cinta kasih. Namun, hatinya bertentangan dengan apa yang nampak dalam wajahnya. Hatinya penuh dengan rasa benci, dengki, iri hati, dan permusuhan. Ia menjual agamanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, menghancurkan kemuliaan dirinya demi mendapatkan jabatan atau harta dunia. Ia mengambil sifat-sifat orang munafik dan meninggalkan sifat-sifat orang mukmin.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Kemunafikan adalah penyakit yang berbahaya. Ia adalah penyakit yang mematikan. Bila ia menimpa sebuah kaum dan merajela di dalamnya, kaum itu berada dalam ambang kehancurannya. Bila ia bersemanyam dalam jiwa manusia, ia akan menghilangkan eksistensi dan kemuliaan dirinya. Kemunafikan adalah api neraka di akhirat kelak. Allah SWT telah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingakatan yang paling bawah dari api neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisa: 145).

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Jual beli adalah amanat. Jiwa yang buruk senantiasa menginginkan untuk mendapatkan keuntungan yang besar, meski untuk itu ia harus menempuh jalan haram, menipu, dan mengurangi timbangan. Padahal, Allah SWT telah berfirman, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-oarng yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rob semesta alam.” (Al-Muthaffifin: 1–6).

Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah saw. datang ke Madinah, sementara penduduknya pada sast itu termasuk dari orang yang paling buruk timbangannya. Maka turunlah firman Allah surat Al-Muthaffifin tesebut. Lalu bagaimanakah dengan keadaan manusia yang pada hari ini mempermainkan timbangan? Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Lima dengan lima.” Para Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud lima dengan lima itu? Rasulullah saw. menjawab, “Tidaklah sebuah kaum mengurangi janji, kecuali Allah akan menjadikan mereka dikuasai oleh musuhnya. Tidaklah sebuah kaum tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Allah kecuali di dalamnya akan merajalela kefakiran. Tidaklah perzinaan yang telah menyebar dalam sebuah kaum kecuali akan tersebar dalam kaum tersebut penyakit tha’un (sampar). Tidaklah sebuah kaum berbuat curang dalam timbangan kecuali mereka akan terhalangi dari tumbuh-tumbuhan dan mereka akan disiksa selama bertahun-tahun. Dan tidaklah sebuah kaum melarang zakat kecuali hujan akan ditahan dari mereka.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Carilah rezeki dengan jalan yang halal. Jauhilah dari sikap menipu karena menipu adalah bencana di dunia dan kegelapan di hari kiamat. Janganlah kalian rusak harta-harta kalian. Bersikap benarlah kalian dalam jual beli dan takutlah kepada Allah, niscaya ia akan menerima harta kalian dan menjaga kalian dari musibah dunia kalian.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Mengapa musibah itu menimpa kita? Mengapa hati penuh dengan iri, dengki, dan rasa benci? Mengapa manusia menjadi gelap mata dalam mencari harta, ia tidak mempedulikan lagi pintu dan cara memperolehnya, meski itu riba, memakan harta anak yatim, saksi palsu, mengurangi timbangan, dan sebagainya. Mengapa hubungan sillaturahmi putus dan ikatannya terlepas? Mengapa jalan yang ditempuh manusia jalan kemunafikan dan penipuan? Apakah ada obat dan jalan keluar dari penyakit ini?

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Sesungguhnya di sana ada dua pohon: pohon kebaikan dan pohon keburukan. Antara keduanya tidak akan pernah bersatu. Pohon keburukan adalah kemunafikan. Marilah pada kesempatan kali ini, kita kembali menengok kepada kehidupan Rasulullah saw. Dan para sahabatnya yang mulia.

Di kalangan sahabat ada seorang yang mendapat gelar pemilik rahasia. Rahasia apa? Rahasia yang sangat berbahaya. Bukan rahasia intelijen, tetapi rahasia tentang orang-orang munafik. Sahabat itu adalah Hudzaifah ibnul Yaman.

Ali bin Abi Thalib berkata tentang Hudzaifah, “Ia mengetahui nama-nama orang munafik dan ia bertanya tentang hal-hal yang buruk tatkala (manusia) melupakannya. Apabila engkau bertanya tentang hal itu kepadanya, niscaya ia akan mengetahuinya. Seseorang bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah kemunafikan itu?” Hudzaifah menjawab, “Engkau berbicara dengan Islam tetapi engkau tidak mengamalkannya.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Ketika Rasulullah saw. datang dari Bani Musthaliq seusai memenangkan peperangan dengan gemilang, kaum muslimin berhenti pada sebuah mata air yang bernama mata air Mursi’ yang terletak dekat kota Madinah. Di sini kaum muslimin memberi minum ternak-ternak mereka. Tak lama kemudian terjadi kegaduhan antara seorang Anshar dengan seorang Muhajirin. Masing-masing berkeinginan untuk mendapatkan giliran terlebih dahulu. Maka, kemudian muncullah pimpinan kaum munafik, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia hendak menyalakan api fitnah dalam masyarakat yang beriman. Ibnu Salul adalah syekhnya kaum munafik. dan kemunafikan itu tidak hanya terbatas pada Abdullah bin Ubay bin Salul saja. Kemunafikan adalah pohon yang buruk yang buahnya dapat engkau jumpai di mana saja dan kapan saja. Abdullah bin Ubay berkata, “Sesungguhnya perumpamaan kami dan perumpamaan orang muhajirin adalah seperti seseorang yang berkata, ‘Buatlah lapar anjingmu niscaya ia akan mengikutimu dan buatlah gemuk anjingmu niscaya ia akan menerkammu.’ Kami telah melindungi para sahabat Rasulullah saw. Harta-harta kami telah kami berikan kepada mereka, dan kami telah memasukkan mereka dalam rumah-rumah kami. Kemudian tatkala mereka telah puas, mereka ingin memakan kita. Demi Allah jika engkau kembali ke Madinah niscaya ia akan mengeluarkan Muhammad dari Madinah dalam keadaan hina.”

Seorang anak kecil dari sahabat Nabi saw., Zaid bin Arqam, lantas pergi menemui Rasulullah saw. dan menyampaikan ucapan Abdullah bin Ubay yang telah didengarnya itu. Ia berkata, ” Abdullah bin Ubay telah berkata tentang hak orang Anshar seperti ini. Ia berakta, “Jika engkau kembali ke Madinah niscaya ia akan mengeluarkan Muhammad dari Madinah dalam keadaan hina.” Para sahabat senior berkata, “Ya Rasulullah, janganlah engkau dengar perkataan itu, karena ia masih anak-anak. Lalu, seseorang berkata kepad Abdulah bin Ubay, “Wahai Abdullah, seorang anak kecil itu telah menyampaikan apa yang engkau katakan kepada Rasulullah saw., maka datanglah kepadanya agar beliau mengampunimu. Tetapi, apa jawaban Abdullah bin Ubay, ia menggelengkan kepalanya karena sombong. Ia menolak datang kepada Rasulullah saw. Lantas apa yang terjadi selanjutnya? Sesungguhnya yang terjadi hampir saja menghancurkan dan merobohkan gunung, Allah SWT menurunkan sebuah surat yang lengkap. Rasulullah kemudian pergi ke rumah anak kecil itu, Zaid bin Arqam.

Zaid berkata, “Saya pulang ke rumah dalam kesedihan yang mendalam. Karena, saya takut Rasulullah akan menganggapku telah berdusta, padahal apa yang saya katakan adalah benar. Tatkala aku berada dalam rumahku, tiba-tiba ada orang mengetuk pintuku. Dan ternyata yang mengetuk itu adalah Rasulullah saw., beliau berkata kepadaku, “Wahai Zaid kemarilah, sesungguhnya Allah dari atas langit yang tujuh telah membenarkan telingamu. Allah Tabaraka wa Taala berfirman yang artinya, “‘Apabila orang-orang munafik itu datang kepadamu, merka berkata, ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al-Munafikun: 1).

Mereka berdusta dalam hal apa? Sesungguhnya mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan siapa yang berkata, “Kami mengakui.” Kami bersaksi itu lebih kuat daripada kami mengakui. Karena kesaksian membutuhkan kepada penglihatan benar-benar kepada sesuatu yang disaksikan itu. Setelah itu mereka meneguhkan perkara dan merekapun bersumpah.

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Abdullah bin Salul memiliki seorang anak yang merupakan sahabat Nabi saw. Ia seperti pohon yang baik dan ikhlas. Ia adalah Abdullah, anak dedengkot kaum munafik dan anak pimpinan munafik. Alangkah jauhnya antara kedua orang tersebut. Yang satu hatinya dipenuhi dengan cahaya tauhid, sementara yang lain dipenuhi dengan kegelapan kemunafikan. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunayi cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)
Anak itu kemudian datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, telah sampai kepadaku bahwa Engkau telah menghalalkan darah ayahku. Wahai Rasulullah, jika engkau berkehendak untuk membunuh ayahku maka suruhlah saya untuk membunuhnya. Maka, Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, seandainya Engkau menyuruhku untuk membunuh ayahku, maka aku tidak akan ragu sedikit pun. Dan, janganlah engkau suruh yang lain untuk membunuh ayahku. Sesungguhnya saya tidak mampu melihat orang yang telah membunuh ayahku. Maka aku menjadi orang yang telah membunuh seorang mukmin dengan munafik.” Demikianlah, para sahabat Rasulullah saw. Beliau telah mendidik mereka dengan kejujuran, keihklasan, dan keimanan. Maka, didiklah diri kalian dengan Alquran dan berakhlaklah dengan akhlak Rasulullah saw. Lantas apakah jawaban Rasulullah saw., “Wahai Abdulah, saya tidak menghalalkan darah ayahmu sehingga manusia tidak berkata sesungguhnya Muhammad telah membunuh sahabatnya. Sesungguhnya kita bersikap baik dalam bersahabat dengannya selama ia berada di antara kita.”

Abdullah kemudian berhenti di depan pintu Madinah dan melarang ayahnya masuk ke dalamnya dan berkata, “Engkau tidak akan bisa masuk ke Madinah, kecuali bila Rasulullah saw. mengizinkanmu.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Ketika Abdullah bin Salul berada dalam detik-detik kematiannya, anaknya datang kepada Rasulullalh dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abdullah bin Ubay berada dalam detik-detik kematiannya dan saya menginginkan pakaian gamismu untuk mengafaninya. Mudah-mudahan Allah akan meringankan apa yang akan menimpa dirinya. Maka Rasulullah pun memberikan pakaian gamisnya yang suci. Tak lama kemudian Abdullah bin Ubay (pemimpin dan dedengkot kaum munafik) mati. Anaknya kemudian datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abdullah telah mati, maka berdirilah untuk menyolatkannya. Rasulullah saw. kemudian berdiri untuk menyolatkan janazahnya, tetapi Al-Faruq, Umar bin Khattab kemudian berdiri di depan Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya dia adalah orang munafik. Janganlah engkau menyolatkannya, maka berkatalah Rasulullah saw., “Allah tidak menyuruhku sebagaimana yang engkau katakan wahai Umar.” Maka Rasulullah saw. menyolatkan, menguburkan, dan berdiri di atas kuburannya. Kemudian turunlah wahyu kepada Nabi saw. yang artinya, “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan meraka mati dalam keadaan fasik.” (At-taubah: 84). Sampai kepada batasan ini rahmat dan kasihmu wahai Rasulullah, pemilik akhlak yang besar dan hati yang penuh dengan rasa sayang. Rasulullah kemudian meminta ampun untuk Abdullah. Kemudian turunlah ayat, “Kamu memohonkan ampun bagi mereka, atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” (At-Taubah: 80).

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Lihatlah kepada amirul mukminin Umar bin Khattab yang datang kepada Hudzaifah dan berkata, “Wahai Hudzaifah, apakah engkau mendapati diriku termasuk orang-orang munafik. Hudzaifah menjawab, “Tidak dan saya tidak mensucikan seseorang setelahmu.”

Wahai hamba Allah, apakah sebuah negara itu hilang hanya dengan kemunafikan? Apakah rezeki itu hilang karena kemunafikan? Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung.

Sesungguhnya bila ada pemuda di antara kita memanjangkan jenggotnya karena ingin mencontah Rasulullah saw. Mereka mengatakan, “Teroris.” Namun, bila ia pergi ke tempat-tempat lahwun (sia-sia) dan meninggalkan salat terutama salat Jumat, mereka mengatakan, “Warga negara tulen.”

Maasyiral muslimin rahimakumullah!

Rasulullah saw. telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat orang munafik dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdulllah bin Amru bin Ash, bahwa Nabi saw. bersabda, “Empat hal yang siapa berada di dalamnya, maka ia adalah munfik tulen. Dan barang siapa dalam dirinya terdapat salah satu dari keempat hal itu, maka ia memiliki pekerti kemunafikan, sehingga ia meninggalkannya: apabila diberi kepercayaan berkhianat, apabila berkata dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila berbantahan (bertengkar) menyeleweng.”

Maka berhati-hatilah wahai para mukmin dari pekerti yang buruk ini. Dan, hendaklah kalian mengikuti arahan Allah Tabaraka wa Taala yang berfirman, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu, dan janganlah kamu mengadakan ilah yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariyat: 50—51).

Menghadaplah kepada Allah dengan hati seroang mukmin yang jujur dan berdoalah kepada Allah sementara kamu yakin dengan dikabulkannya doa itu dan mohonlah ampunan kepada Allah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s