Kegagalan Jangan Membuatmu Berputus Asa

bismillah-12Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Allah SWT telah berfirman, Alladziina qaala lahumunnaasu innannaasa qad jama?uu lakum fakhsauhum fazaadahum iimaana wa qaaluu hasbunallaahu wa ni?mal wakiil. Fanqalabuu bini?matim minallaahi wa fadhlin lam yamsashum suu-un wat taba?uu ridlwaanallaahi wallaahu dzuu fadzlin ?adziim. Innamaa dzaalikumus syaithaanu yukhawwifu auliyaa-ah falaa takhaafuhum wa khaafuuni inkuntum mukminin. (yaitu) orang-orang yang menaati Allah dan Rasul yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,? maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Qurasy) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Seusai Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijrah dan kaum muslimin telah mendapatkan apa yang mereka dapatkan, Abu Sufyan pemimpin kaum musyrik berseru kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, jika engkau mau, maka tempat pertemuan kita selanjutnya adalah Badar.” Rasulullah saw. pun menjawab, “Ya, insya Allah Taala.”

Setibanya di Madinah Rasulullah saw. merasa khawatir kalau-kalau orang musyrik datang ke Madinah untuk menyempurnakan kemenangan mereka. Menyikapai hal ini, Rasulullah saw. lantas memanggil para sahabatnya agar segera keluar di belakang musuh. Beliau juga memerintahkan agar yang menyertai dirinya hanyalah yang ikut dalam satu peperangan saja. Para sahabat pun menyambut perintah itu dengan penuh kekuatan diri dan kebulatan tekad setelah mereka mendapatkan luka. Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai sebuah tempat yang disebut dengan Hamra’ al-Asad.

Apa yang dikhawatirkan Rasulullah terbukti. Orang-orang musyrik tengah mempersiapkan diri menuju Madinah al-Munawarah. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa Nabi telah keluar dari Madinah menuju Mekah dan mengira yang datang bersama Rasulullah adalah orang yang tidak ikut dalam perang sebelumnya serta Allah memberikan rasa takut kepada hati meraka, maka mereka pun bergegas kembali menuju Mekah.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Ketika Rasulullah saw. berada di Hamra’ al-Asad beliau menangkap seorang penyair yang bernama Abi Izzah. Abi Izzah ini seringkali mencela Rasulullah saw. dengan syair-syairnya dan memberi semangat kaum musyrikin untuk melawan kaum muslimin.

Rasulullah akhirnya memberikan kebaikan kepadanya, manakala terjadi perjanjian dengan Rasulullah bahwa dia tidak akan lagi melantunkan syair yang memberi semanagat kaum musyrikin untuk membunuh kaum muslimin. Namun, Abi Izzah melanggar janji ini. Maka, Rasulullah memerintahkan agar Abi Izzah dibunuh. Abi Izzah lalu bertawasul kepada Rasulullah saw agar memberikan kebaikan kepada dirinya sekali lagi. Rasulullah saw. menjawab, “Tidak demi Allah, Janganlah kau bersihkan kedua pipimu dengan Kakbah. Engkau telah menipu Muhammad dua kali. Seorang mukmin tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali.” Perang di Hamra al-Asad diangggap sebagai jawaban atas apa yang diperoleh kaum muslimin dalam Perang Uhud.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Peristiwa di atas adalah pelajaran yang jelas dan gamblang bagi kaum muslimin dalam segala kondisi, yang tidak tertipu oleh aktivitas kaum munafik, musyrik, dan orang yang melanggar perjanjian. Seorang mukmin hendaknya tidak terjerumus ke dalam sebuah lubang yang sama dua kali.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Dalam Perang Badar, Abu Sufyan berupaya menangguhkan pasukan kaum muslimin dan melakukan perang urat syaraf, namun upaya ini menemui kegagalan.

Kaum muslimin terus datang ke Badar dengan senantiasa melantunkan, “Hasbunallaahu wa ni?mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Maka, bertambahlah keimanan orang mukmin. Maka, hendaknya kita melantunkan, “Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung), terlebih saat ini kita berada dalam perkara yang besar. Allah adalah pelindung kita, Allahlah yang akan mencukupi kita dan Allahlah yang akan menjadi penolong kita. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Jika kalian berada dalam perkara yang besar, maka katakanlah Hasbunallaahu wa ni’mal wakiil.” Adalah Nabi Ibrahim a.s. juga melantunkan ucapan ini ketika dilempar ke dalam api.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Kaum muslimin telah keluar dan berdiam di Badar selama tiga hari. Mereka melakukan aktivitas perdaganagan dengan aman dan tenteram. Mereka pulang dengan membawa ghanimah dengan selamat, sebagaimana yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya, ?Alladziina qaala lahumunnaasu innannaasa qad jama’uu lakum fakhsauhum fazaadahum iimaana wa qaaluu hasbunallaahu wa ni?mal wakiil. ([yaitu] orang-orang yang menaati Allah dan Rasul yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”.

Ayat yang mulia di atas mengajak kita agar berdiam diri, tegar, dan tetap kokoh dalam posisi atau tempat yang sulit. Ayat tersebut juga mengajak kepada kita untuk senantiasa bertawakal kepada Allah menyandarkan takutnya hanya kepada-Nya karena tidak ada tempat berlindung kecuali hanya Dia, Allah SWT. Karena, bila rasa takut seorang mukmin kepada Allah itu telah melekat dalam dirinya, Allah akan menundukkan semua makhluk kepadanya.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Kaum muslimin tidak berputus asa terhadap kejadian yang menimpa mereka pada Perang Uhud. Mereka tidak tidur, tenang, melarikan diri dari tanggung jawab, memusuhi jabatan dan singgasana, menuduh satu dengan lainnya dari belakang, maupun menolong Parsi atau Rum. Mereka tidak pula melakukan konferensi politik, badan keamanan, maupun pernyataan atas nama bangsa sebagaimana yang dilakukan oleh dunia Islam saat ini.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Pada masa lampau kaum muslimin telah mengalami ujian yang begitu berat kerika Perang Tatar dan Salib berkecamuk. Nenek moyang kita bisa melampui kesulitan itu dengan tegar, kokoh, dan pengorbanan. Hal ini karena mereka bertakwa kepada Allah dan hanya takut kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat, Imam Hasan Bashri bertanya kepada seseorang, “Bagaimana rasa takutmu kepada Allah? Maka, orang yang bertanya berkata, “Apabila saya berada dalam sebuah kapal laut, lalu kapal itu hancur dan meninggalkan satu papan, lalu aku menggantungkan diriku dengan papan itu. Dan, engkau berada dalam ombak yang besar, maka bagaimanakan perasaanmu? Ia menjawab, “Saya sangat takut.” Maka, Hasan al-Bashri berkata, ”Begitulah rasa takutku kepada Allah siang dan malam.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

Hari ini umat Islam tengah mengalami ujian dan cobaan, meskipun demikian hal ini tidak menghilangkan rasa kepercayaan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Dan, janganlah berputus asa karena Allah SWT telah berfiman yang artinya, “Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s