Ramadhan Menjadikan Hamba Rabbani

بقلم : نبيل بن فؤاد المساوى

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Ali-Imran, 3:79)

Tafsir secara bahasa ( معنى اللغوي ) :

Shaum (صوم) dalam bahasa Arab sinonim dari إمساك (menahan diri untuk tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu (QS 19/26) atas suatu kaum dan bahkan ia maknanya lebih tinggi dari itu [1] dikatakan dalam kalimat: صامَ يَصُوم صَوْماً وصِياماً artinya meninggalkan sesuatu. Adapun secara terminologis, shaum bermakna: menahan diri dari makan, minum hubungan seksual dan perbuatan-perbuatan maksiat dengan niat yang ikhlas, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (QS 2/183-187). Ibadah ini diwajibkan tahun ke-2 hijrah.

Tafsir ayat ( تفسير الأية ) :

Wahai orang-orang yang beriman: Pengkhususan [2] panggilan ALLAH SWT pada orang-orang yang beriman pada ALLAH & Rasul-NYA & membenarkan keduanya [3]. Keistimewaan karena dipanggil dengan nama tertinggi.

Kutiba ‘alaykum: Bahwa kewajiban tersebut nisbatnya adalah kepada ALLAH SWT. Ayat ini dicantumkan setelah 2 ayat “kutiba” lainnya, yaitu ayat penegakan syariat qishash (QS 2/178) & ayat wasiat (2/180) [4].

Kama kutiba ‘alalladzina min qablikum: Sebagaimana telah diwajibkan kepada ummat sebelum kita, seperti Maryam as yang shaumnya juga tidak boleh berbicara (QS 19/26) sama sekali [5], shaumnya Thalut as hanya boleh minum seteguk air saja (QS 2/249) sehingga yang mampu bertahan hanya 309 orang saja [6]. Demikian pula puasa selang sehari Nabi Daud as [7], dan puasa ummat Muhammad SAW sebelum turunnya QS 2/187 [8].

La’allakum tattaqun: Bahwa puasa itu haruslah mencapai derajat taqwa dan taqwa artinya mensucikan jiwa (tazkiyyah-nafs) dari kotoran & kemaksiatan [9].

Pelajaran yang dapat diambil ( ما يستفاد منها ) :

Mengapa puasa yang benar dapat menjadikan hamba yang Rabbani?

  1. Karena kualitas puasa seseorang tergantung dari kualitas keimanannya: Man shama Ramadhana imanan wahtisaban… [10]
  2. Karena puasa merupakan latihan menahan hawa nafsu & menjauhi maksiat: Man lam yada’ qawlaz zur wal ‘amala bihi… [11]
  3. Karena puasa merupakan benteng yang membentengi seseorang dari godaan Syaithan: Ash Shaumu junnah… [12]
  4. Karena puasa merupakan latihan disiplin & kesabaran: Fa in saabbahu ahadun aw qaatalahu… [13]
  5. Karena puasa merupakan sarana menumbuhkan kepedulian & kasih-sayang: Kaana SAW ajwadan naas, wa kaana ajwad maa yakuunu fii Ramadhaan… [14]
  6. Karena puasa merupakan waktu interaksi yang intens dengan KalamuLLAH: Wa kaana Jibriilu yalqaahu fii kulli laylatin min Ramadhaana fayudaarisuhul Qur’aana… [15]
  7. Karena puasa merupakan waktu berdzikir sebanyak-banyaknya: Wa li tukabbiruLLAAHa ‘alaa maa hadaakum… [16]
  8. Karena puasa merupakan waktu untuk berdoa : Wa idzaa sa’alaka ‘ibaadii annii… [17]
  9. Karena puasa merupakan sarana untuk meningkatkan rasa syukur akan nikmat-NYA kepada kita : Wa la’allakum tasykuruun… [18]

الله أعلم بالصواب …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s